A R S I P

  
  

Penampakan Gereja Christian Science pada Google Maps

  

Wow Keren! Danau Toba Jadi Tuan Rumah Festival Drum Dunia

  

Pharrell Williams: Musik dan Arsitektur Tidak Ada Bedanya!

  

Cinta Laura Tak Punya Teman di Jakarta

  

Wush! Ada Angin Tornado Sungguhan di Dalam Museum

  

Wouw! Chicken Cordon Bleu yang Renyah Ini Harganya Rp 19.000!

  

Uppsss... Ini Bantal Khusus Lajang Kesepian, Laki dan Perempuan!

  

Di Balik Elok Danau Toba

  

Sup RM Sipirok Jalan Sunggal Medan, Duh Enaknya!

  

Mandi Air Soda di Tarutung

  

Natalie Portman Jaga Kehidupan Sexnya

  

Nagabonar: Si Naga yang Kian Kinclong

  

Polling Ribuan Perempuan: Scarlett Johannson Terseksi

  

Mr Bean's Holiday: Perpisahan Manis ala Mr Bean

  

Boyz II Men Konser Bareng Agnes Monica

  

Tukul Lantunkan 'Lilin Lilin Kecil' di Makam Chrisye

  

Cicak, Simbol Unik Suku Batak untuk Bertahan Hidup


Posted by Administrator on Monday, 14 October 2013 15:49

Ukiran cicak khas Batak

Pernahkan Anda berkunjung ke rumah tradisional Batak, Ruma Bolon? Apabila Anda melihat secara teliti Ruma Bolon, maka Anda akan menemukan ciri khas berupa dinding yang kaya ukiran.

Pergaulan masyarakat Suku Batak selalu dilatarbelakangi oleh filosofi. Leluhur masyarakat suku batak yang meyakini cicak atau yang disebut dengan boraspati sebagai simbol kebijaksanaan dan kekayaan bagi generasinya.

Selain sebagai dekorasi, gorga memiliki nilai filosofi bagi suku Batak. Salah satunya adalah ukiran cicak atau disebut juga dengan gorga boraspati yang merupakan simbol kebijaksanaan dan kekayaan.

Ukiran cicak selalu menghadap ukiran 4 payudara (adop-adop) dimana setiap adop-adop mempunyai artinya masing-masing. Adop-adop yang pertama sebagai simbol kesucian, adop-adop yang kedua sebagai simbol kesetiaan. Adop-adop yang ketiga sebagai simbol kesejahteraan, serta adop-adop yang keempat sebagai simbol kesuburan wanita.

Munculnya filosofi tersebut bermula dari pengamatan leluhur masyarakat Suku Batak terhadap pola hidup cicak yang bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Cicak bisa hidup di lantai, di dinding, di lorong, di atap dan di mana saja. Dalam cengkeraman kucing pun, cicak bisa meloloskan diri dengan melepas umpan ekor pengelabu.

Leluhur masyarakat suku Batak berharap generasi penerusnya harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya di manapun ia berada. Seperti kita ketahui, masyarakat Suku Batak kebanyakan merantau ke daerah lain. Maka diharapkan di daerah perantauannya Suku Batak harus dapat beradaptasi dengan lingkungan dan dengan masyarakat setempat. Sehingga akan tetap bertahan, bagaimana pun situasi dan kondisi yang dihadapinya.

Filosofi itu juga yang diterapkan dalam pergaulan masyarakat Suku Batak. Harus dapat bergaul dengan siapa saja dan menyikapi dengan bijak perbedaan-perbedaan yang ada dalam suatu lingkungan, sehingga pada akhirnya bisa hidup di mana saja.

Hal tersebut terbukti dengan kekerabatan masyarakat Suku Batak yang masih sangat kuat sampai saat ini. Ketika orang Batak baru pertama kali berkenalan satu dengan yang lainnya, maka yang akan dicari terlebih dahulu adalah hubungan kekerabatan di antara mereka.

Selain itu, bagi masyarakat Suku Batak yang mata pencahariannya adalah bertani, kemunculan cicak di lahan pertanian ladang dan sawah diyakini sebagai pertanda tanaman akan tumbuh subur. Semakin sering cicak muncul, tanaman semakin subur, sehingga dapat dipanen dengan hasil yang memuaskan. Keanekaragaman suku memang memperkaya budaya bangsa.

Sumber: Putri Vera Hutapea - d'Traveler

ENTERTAINMENT | READ  2189x



Share

  PageRank Checking Icon
 
Copyright ©1998 - 2018 by Tobing. All rights reserved. | Powered by dontob

Horas to all of you.