A R S I P

  
  

Zhao Bowen, Drop Out SMA yang Pimpin Riset DNA Orang Genius

  

Arsitektur Mustahil yang Benar-benar Mustahil....

  

Panjang Cuma 3 Cm, Hewan Ini Punya 750 Kaki

  

Lukisan Monalisa Versi Muda Mengundang Kontroversi

  

Bagaimana Peluang Lulusan TI dan SI di Masa Depan?

  

RIP Pusuke, Anjing Tertua Mati di Jepang

  

Darah Piton Bisa Jadi Obat Jantung

  

Satelit Jerman Akan Jatuh ke Bumi

  

Otot Super Cepat, Rahasia Ketangkasan Kelelawar

  

Tumbuhkan Minat Sains sejak Anak-anak

  

Alat Canggih Tolak Gosip

  

Nyala Lilin Ternyata Mengandung Berlian

  

Mari Bermalam di Luar Angkasa

  

Pesawat Hipersonik AS Menghilang

  

Mesin Cuci Paling Cepat dan Hemat

  

Ambisi China Bangun Stasiun Antariksa Tahun 2020

  

Tembakau Dapat Hasilkan Protein Anti-Kanker

  

Mati, We Si Ular Dua Kepala

  

Adu Makan Cepat ala The Simpsons Game

  

Pertama di Dunia, LG Philips Kembangkan e-Paper Ukuran A4

  

Kawasan Zona Nirkabel Hi-Tech Sedang Dibangun

  

CDMA dan GSM dalam Satu Ponsel

  

Kelamin Kadal Berubah Karena Pemanasan Global

  

Seperti Apa Ponsel Mewah Seharga Rp 2,8 Miliar?

  

Mozart Tak Membuat Anda Lebih Pintar

  

Ikan Berusia 100 Tahun Tertangkap di Alaska

  

IBM Kenalkan Chipset Optik Kecepatan Tinggi

  

Kaca Mata Bunglon, Dapat Berubah Banyak Warna

  

Sebuah LED Cukup Menerangi Ruangan

  

Broadband via Ku-Band IM2 Bidik 1000 Perusahaan

  

9 Perusahaan Telekomunikasi Bentuk Forum IPTV

  

Telkom Siap Komersialkan Layanan IPTV

  

Salah satu permata produksi LifeGem yang dibuat dari abu hasil kremasi

  

Emirates, Check-In Lewat Internet

  

Handycam Kecil Kemampuan Besar.

  

IBM Kembangkan Teknologi Komputer untuk Manula

  

Penanda Arah Selatan, Gubug Penceng


Posted by on Monday, 15 August 2011 00:00

Salah satu rasi bintang yang memiliki arti penting bagi bangsa-bangsa di belahan Bumi selatan adalah Crux yang di Indonesia dikenal dengan sebutan rasi Layang-layang. Jauh sebelum nama Layang-layang dikenal, sejumlah etnis Nusantara mengenal rasi ini sebagai Lintang Gubug Péncéng dan Ikan Pari.

Rasi ini memiliki makna penting karena menjadi penanda arah selatan. Lima bintang terang yang dimilikinya dan bentuknya yang sederhana membuat rasi ini mudah diamati dan diidentifikasi.

Selepas Matahari terbenam selama Agustus ini, rasi Layang-layang terlihat cukup rendah di langit selatan, yakni 10-30 derajat di atas horizon. Rasi ini terlihat di langit malam sejak April-Agustus, tetapi waktu terbaik mengamatinya antara Mei dan Juni.

Peneliti Planetarium Jakarta yang juga Pembina Himpunan Astronom Amatir Jakarta, Widya Sawitar, Kamis (11/8/2011), di Jakarta, mengatakan, meski kemunculan rasi ini menjadi penanda datangnya musim kemarau, fungsi penunjuk arah merupakan yang utama.

Saat rasi ini menghilang dari langit malam pada September, muncul rasi Orion atau Lintang Waluku. Rasi Orion memiliki arti paling penting bagi masyarakat Jawa karena menjadi penanda dimulainya masa bercocok tanam.

Nama Gubug Péncéng berasal dari kisah sejumlah pemuda yang membangun rumah. Di depan rumah yang dibangun, setiap hari lewat seorang perempuan cantik yang akan mengantar makanan ke sawah. Kecantikan perempuan itu mengganggu konsentrasi para pemuda. Alhasil, rumah yang dibangun bentuknya miring alias péncéng (Jawa). Gambaran itu diabadikan menjadi nama rasi Gubug Péncéng.

Perempuan cantik diabadikan sebagai Lintang Wulanjar Ngirim, yang dalam astronomi modern dikenal sebagai bintang Alpha Centauri dan Beta Centauri. Kedua bintang ini merupakan bagian dari rasi Centaurus yang dalam mitologi Yunani dilambangkan dengan kuda berkepala manusia. Sang perempuan diabadikan sebagai Alpha Centauri yang merupakan bintang terdekat dari Bumi setelah Matahari. Adapun selendangnya yang tertiup angin diabadikan sebagai Beta Centauri.

Menurut Widya, sejak kapan masyarakat Jawa mengenal Lintang Gubug Péncéng tidak dapat dipastikan. Namun, semasa pemerintahan Panembahan Senapati dari Kerajaan Mataram yang bertakhta antara 1575 dan 1601, nama rasi ini sudah disebut-sebut dalam sejumlah tembang. "Jika pada masa itu sudah disebut, pengetahuan tentang Lintang Gubug Péncéng dipastikan sudah ada jauh sebelum masa itu," katanya.

Masyarakat Jawa pesisir mengenal Lintang Gubug Péncéng dan Lintang Wulanjar Ngirim sebagai satu kesatuan dan menyebutnya sebagai rasi Ikan Pari. Adapun masyarakat Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaya mengenalnya sebagai Buruj Pari.

Nama Layang-layang untuk Crux baru muncul dalam era Nusantara modern. Tidak ada literatur kuno yang menyebut Crux sebagai Layang-layang.

Salib Selatan

Jika etnis Nusantara mengenal Crux dalam pemahaman masyarakat agraris dan maritim, bangsa Barat mengenal rasi ini dalam pemahaman keagamaan. Mereka menamai Crux sebagai Southern Cross (Salib Selatan).

Mahasiswa program doktoral Jurusan Fisika Universitas Leiden dan peneliti Institut Nasional untuk Fisika Sub-Atomik (Nikhef), Amsterdam, Belanda, Tri L Astraatmadja, mengatakan, bangsa Barat mengenal Crux pada abad XVI saat melakukan perjalanan mencari sumber rempah-rempah. Bentuk Bumi yang bulat membuat bangsa-bangsa Eropa tidak bisa melihat Crux yang posisinya di belahan langit selatan.

"Sistem penamaan bintang atau rasi bintang berkaitan dengan budaya masing-masing masyarakat," katanya.

Negara-negara jajahan Barat di belahan Bumi selatan memasukkan gambar rasi Crux dalam bendera negara mereka untuk menunjukkan keunikan tempat mereka, seperti Australia, Selandia Baru, dan Papua Niugini. Adapun bintang rasi Crux pada bendera Brasil yang merupakan bekas jajahan Portugis melambangkan jumlah negara bagian.

Crux merupakan rasi terkecil di antara 88 rasi bintang di seluruh langit yang ditetapkan batas-batasnya oleh Persatuan Astronom Internasional (IAU) pada 1930. Dalam astronomi, rasi ini tidak memiliki makna khusus. Selain penunjuk arah selatan, fungsinya sama dengan fungsi rasi lain, yaitu mempermudah penentuan medan langit dan penamaan benda langit.

Sejumlah obyek astronomi di sekitar rasi Layang-layang yang banyak menarik astronom adalah Kantung Arang, nebula gelap bahan dasar pembentuk bintang, serta Kotak Berlian, gugus bintang terbuka berusia muda.(M Zaid Wahyudi)



Sumber: Kompas Cetak

SAINS DAN IPTEK | READ  2714x



Share

  PageRank Checking Icon
 
Copyright ©1998 - 2018 by Tobing. All rights reserved. | Powered by dontob

Horas to all of you.