A R S I P

  
  

K E M A T I A N

  

Menjadi Sesama Sehabis-Habisnya

  

6 Prinsip Manajemen Yesus

  

Suara hati membimbing pembaharuan

  

Hiduplah Dalam Perdamaian Dengan Semua Orang

  

10 Orang Kusta

  

SUKACITA YANG SEJATI


Posted by Sabar McDonald Lumbantobing, St. on Saturday, 07 December 2013 11:05

Lalu kata Maria :Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku (Luk.1:46-47)

Kehadiran anak tentulah memberikan sukacita besar di dalam keluarga. Orangtua merasa bahagia melihat senyum, tawa atau ocehan anak balita, meskipun mereka sangat repot untuk mengurus dan memenuhi kebutuhan sang bayi. Sukacita memiliki seorang anak datangnya dari hati, karena itu kepenatan tubuh tidak menjadi penghalang yang besar bagi orang tua untuk menikmati kebahagiaan bersama anak yang mereka banggakan.

Di Palestina kelahiran seorang anak laki-laki akan membuat orang bersukacita dan merayakannya. Apabila waktu kelahiran sudah dekat, para sahabat dan pemusik lokal akan berkumpul dekat rumah keluarga yang akan mendapatkan seorang anak. Apabila diumumkan bahwa yang lahir adalah seorang anak laki-laki maka para pemusik akan memainkan musiknya, semua orang akan menyanyi dan mengucapkan selamat. Sukacita akan meliputi keluarga dan banyak orang di sekitarnya.

Namun tidak demikian pada awalnya bagi Maria dan Yusuf. Berita akan mendapat seorang putera (anak laki-laki) di masa muda dan masih perawan adalah satu pertanyaan besar yang tidak terjawab olehnya. Apalagi ketika malaikat Gabriel menyampaikan, bahwa Maria akan mengandung oleh Roh Kudus dan anak itu kelak disebut Yesus Anak Allah yang Maha Tinggi. Dan Ia akan menjadi Raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak berkesudahan (Luk. 1: 31-33). Kebingungan tentu ada bagi Maria dan Yusuf tunangannya. Karena mereka masih bertunangan, dan Maria masih perawan. Namun karena berita itu adalah dari malaikat Tuhan, ia pun menerimanya dan berkata: Sesungguhnya aku ini adalah hambaMu Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu.

Kebahagiaan sejati adalah ketika kita menerima Yesus sebagai Juruselamat.
Menerima janji yang besar dan rencana Tuhan yang besar, Maria bernyanyi dan memuji Tuhan katanya :Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku. Seruan ini dikenal sebagai nyanyian pujian Maria, dimana hal ini keluar dari lubuk hatinya yang terdalam. Walau keraguan muncul dalam hati Maria pada awalnya, namun akhirnya sukacita besar meliputi seluruh hidupnya, karena, Tuhan memakai ia yang hina menjadi perantaaan kelahiran Yesus Raja yang besar itu. Nyanyian Maria, kiranya juga menjadi nyayian kita semua, karena bukan saja Maria, tetapi kita semua telah berbahagia karena Yesus yang lahir itu. Ia telah menyelamatkan kita dari dosa dan maut, bahkan ia telah menyediakan hidup kekal bagi setiap orang yang percaya. Bukankah itu kebahagiaan yang paling sejati? Berbahagialah orang yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidupnya. Amin.

Kebahagiaan sejati adalah ketika kita menerima Yesus sebagai Juruselamat.

St. SMD.Lumbantobing



RENUNGAN | READ  1980x



Share

  PageRank Checking Icon
 
Copyright ©1998 - 2017 by Tobing. All rights reserved. | Powered by dontob

Horas to all of you.