A R S I P

  
  

Penampakan Gereja Christian Science pada Google Maps

  

Cicak, Simbol Unik Suku Batak untuk Bertahan Hidup

  

Wow Keren! Danau Toba Jadi Tuan Rumah Festival Drum Dunia

  

Pharrell Williams: Musik dan Arsitektur Tidak Ada Bedanya!

  

Cinta Laura Tak Punya Teman di Jakarta

  

Wush! Ada Angin Tornado Sungguhan di Dalam Museum

  

Wouw! Chicken Cordon Bleu yang Renyah Ini Harganya Rp 19.000!

  

Uppsss... Ini Bantal Khusus Lajang Kesepian, Laki dan Perempuan!

  

Di Balik Elok Danau Toba

  

Sup RM Sipirok Jalan Sunggal Medan, Duh Enaknya!

  

Mandi Air Soda di Tarutung

  

Natalie Portman Jaga Kehidupan Sexnya

  

Polling Ribuan Perempuan: Scarlett Johannson Terseksi

  

Mr Bean's Holiday: Perpisahan Manis ala Mr Bean

  

Boyz II Men Konser Bareng Agnes Monica

  

Tukul Lantunkan 'Lilin Lilin Kecil' di Makam Chrisye

  

Nagabonar: Si Naga yang Kian Kinclong


Posted by on Wednesday, 28 March 2007 00:00

JAKARTA, KCM - Deddy Mizwar kembali membuktikan dirinya sebagai bintang plus sutradara terbaik di negeri ini. Lewat Nagabonar Jadi 2, yang juga dibintanginya bersama aktor Tora Sudiro, Bang Haji--begitu ia disapa--berhasil menyuguhkan karya bermutu tanpa harus meningalkan warna Indonesia yang membumi.

Inilah sebuah sekuel yang manis dari film Nagabonar arahan sutradara MT Risyaf, yang skenarionya ditulis (alm) Asrul Sani. Deddy menghadirkannya kembali setelah 20 tahun film itu dirilis, tanpa kehilangan gregetnya. Ya, sebuah pekerjaan yang tak gampang untuk dijalani di tengah derasnya perubahan zaman yang begitu cepat.

Namun Nagabonar tetaplah Nagabonar. Ia seakan menjadi sebuah simbol yang tak habis digerus zaman. Selalu hadir dalam benak dan kehidupan masyarakat Indonesia. Dan, Deddy berhasil menghadirkannya kembali lewat Nagabonar Jadi.

"Luar biasa! Semua luar biasa. Skenario dan pemainnya sangat kuat," sahut sutradara Chairul Umam, yang masih duduk di bangku usai menyaksikan pemutaran perdana film Nagabonar Jadi 2, arahan sutradara Deddy Mizwar, di Djakarta Theater,  Selasa (2/3).

Apa yang dilontarkan Chaerul jelas bukan sekadar basa-basi menyenangkan sang rekan. Tapi itulah faktanya, film yang skenarionya kini ditulis Musfar Yasin itu, berhasil memberi keyakinan bahwa film nasional masih bisa bersinar asalkan dipenuhi film-film semacam ini, bukan film horor-hororan yang membodohkan itu.   
 
Ada benang merah yang begitu kental. Nagabonar tetaplah Nagabonar yang dulu. Sebagai pelakon utama, Deddy berhasil menghidupkan sosok Nagabonar kembali. Usianya kini tak lagi muda. Jalannya pun sedikit bungkuk, kulit yang kriput plus rambut yang telah dijejali uban di mana-mana. Meski begitu, kepiawaian Nagabonar dalam urusan mencopet masih tetap saja lincah.
 
Ini yang kemudian menjadi pemantik untuk mengingatkan sosok Nagabonar yang sempat menari-nari dalam ingatan penonton di Tanah Air. Nagabonar yang unik dengan segala polahnya yang mengundang tawa. Dari sosoknya pun, tokoh rekaan Asrul Sani ini, memang sudah bisa membuat orang tertawa.

Pada masa perjuangan, ia adalah sosok yang "unik." Dia jago nyomot dan kemudian mengikrarkan dirinya sebagai jenderal di masa perjuangan. Ucapannya kerap tedeng aling-aling, tapi juga sok tahu sehingga dari ucapan dan prilakunya sering muncul kejenakaan yang spontan.

Inilah yang kembali disodorkan. Deddy lagi-lagi berhasil menghidupkan karakter Nagabonar pada zaman yang berbeda. Ya, sebuah dunia yang tak terbayangkan di kepala Nagabonar. Kemerdekaan yang dulu turut diperjuangkannya, dirasakannya hanya dicicipi segelintir orang saja.

Lihat saja, ketika ia mengendarai bajaj di jalan utama di Jakarta, kendaraan yang ditumpanginya itu diberhentikan polisi. Si supir bajaj tak bisa mencegah keinginan Nagabonar. Maklum, penumpangnya seorang pensiunan jenderal! Ia pun melabrak larangan masuk bagi bajaj.

Perdebatan pun terjadi. Ini menjadi bagian yang ngocol. Tatkala Nagabonar berargumen dengan pak polisi. Itu bukan akhir dari kejenakaan yang disodorkan Nagabonar. Polahnya yang ndeso, juga menjadi magnet yang tak terlepaskan dari seorang jenderal benama Nagabonar.

Bang Haji, memang mencoba menghadirkan banyak konflik. Tak sekadar hubungan ayah dan anak, anak dan kekasih juga konflik terhadap zamannya. Dahsyatnya, semua itu terekam betul dan terjaga secara apik. Bolehlah jadi, lewat Nagabonar Jadi 2, Bang Haji ingin memperlihatkan gambaran tentang sebuah negara bernama Indonesia.

Lihatlah sejumlah karakter dimunculkan. Ada sopir bajaj yang asal Betawi dan Madura, sopir metromini yang asal Sumatra Utara, atau bahkan rekan Bonaga yang asal Arab.

Dan, zaman inilah yang terekam dalam benaknya.  Itu karena Deddy memilih setting masa ini, lantaran punya keterbatasan untuk menghadirkan kembali Nagabonar di masa-masa perjuangan dulu.

"Saya punya kesulitan memilih di zaman itu. Karena saya tidak merasakan bagaimana hidup di zaman itu, tidak seperti Pak Asrul Sani. Makanya dibutuhkan suasana yang sangat in untuk menyampaikan pesan kepada anak-anak sekarang," kata Deddy kepada pers sebelum penayangan filmnya tersebut.

Skenario yang dibangun Musfar Yasin, sebetulnya penuh pesan yang membumi namun tak terasa menggurui. Deddy mengemasnya dengan gaya komedi yang cerdas. Seperti halnya Asrul Sani, yang mampu menyuguhkan cerita yang sangat kuat dan berisi humor-humor yang "pintar". Kekuatan humor itu terkandung bukan saja dalam cerita, tetapi juga dalam ucapan-ucapan Naga.

Sosok Nagabonar masih begitu dominan, meski kini telah hadir sosok Bonaga. Tapi bisa dimaklumi, toh Nagabonar lah yang menjadi juru kunci yang sebenarnya. Ia masih menjadi sosok sentral.  Dan, Deddy berhasil memainkannya secara gemilang.

Tak ayal, inilah yang memberi efek terhadap akting para pemain lainnya. Tora Sudiro, Nagabonar junior itu, mampu mengimbangi permainan Deddy yang sudah mumpuni itu. Dua sosok inilah yang kemudian menjadi sentral cerita.

Ada konflik yang dibangun, yakni sebuah kesenjangan antargenerasi yang kerap hadir. Inilah yang tergambar ketika Bonaga berniat menerima pinangan investor asing untuk membangun sebuah kota wisata di perkebunan kelapa sawit milik Nagabonar. Yang jadi soal, di sanalah bersemayam kuburan orang-orang yang dikasihinya: Mereka tak lain, Mamaknya, Istri Nagabonar, Kirana, dan sahabatnya si Bujang.

Perbedaan cara pandang dan penyampaian, pada akhirnya kerap melahirkan kesenjangan-kesenjangan itu. Nagabonar Jadi 2, bisa jadi merupakan jawaban Deddy atas kesenjangan antargenerasi yang kerap datang. Hanya dialog dan cinta lah yang pada akhirnya bisa menyelesaikan kesenjangan-kesenjangan itu.

Deddy, memberikan ruang dialog itu lewat Nagabonar Jadi 2. Lihatnya, betapa sekarang banyak generasi muda yang tak mau lagi menghargai jasa-jasa pahlawannya. Dan, Nagabonar kembali mengingatkan kepada kita tentang semangatnya mempertahankan nilai-nilai penghargaan dan kemanusiaan yang kini sudah tergerus.

Akhirnya, hanya dua kata yang bisa menggambarkan film satu ini: luar biasa! Ya seperti apa yang dilontarkan Chaerul Umam, sesaat setelah menyaksikan film satu ini.



Sumber: KCM

ENTERTAINMENT | READ  2093x



Share

  PageRank Checking Icon
 
Copyright ©1998 - 2018 by Tobing. All rights reserved. | Powered by dontob

Horas to all of you.